Makam Singoludro

Makam Singoludro

Pada Zaman Dahulu ada sebuah kerajaan bernama Kahuripan sekarang ada di wilayah antara sidoarjo dan surabaya dengan rajanya Prabu Erlangga.
Prabu Erlangga mempunyai mahapati bernama Norotomo dibantu oleh senoati buto Locoyo. Adipati Buto Locoyo ditinggal istrinya meninggal dengan mempunyai dua putra. Yang pertama Joko Ludro alias Mahesa Suro alias Kelono Suwandono saat itu usianya 10 tahun. Adikanya bernama Singo Ludro alias Jaka Suro alias Pujangga Anom ketika ditinggal ibunya saat usianya 6 tahun.
Senopati buto Lojoyo ditengah kesibukannya sebagai seorang adipati dengan sabar d an semangat mendidik dan menurunkan semua ilmu kesaktian dan kanoragan kepada kedua putranya. Jadi guru pertama kedua putranya adalah ayahnya sendiri yakni Adipati Buto Locoyo.
Ketika anaknya sudah dewasa Joko Ludro menjadi raja disebuah kerajaan bernama Bantar Angin dibantu oleh adiknya Joko Ludro (singoludro) sebagai mahapati. Singo Ludro beliau ibarat seekor singa yang garang dan siap menerkam korbannya. Seorang yang ulet ahli dalam mengatur dan menagani segala urusan pemerintahan dan dijuluki sebagai malaikat pelindung kerjaan Bantar Angin. Beliau adalah seorang meiiliki jiwa yang besar, jujur dan sabar serta rela berkoban untuk orang lain.
Saat itu ada raja Dahanapura yang ada di Kediri mempunyai seorang putri yang sangat cantik hingga terkenal di wilayah jawa akan kecantikannya. Disis lain Joko Ludro raja Bantar Angin belum menikah. Akhirinya adiknya yang bernama Singo Ludro diperintahkan untuk melamar putri raja Dahanapura Majapahit yang bernama Dewi Songgo Langit.
Ketika dilamar, lamaranya diterima tetapi dengan dua sayarat yakni pada saat perkawainannya harus disaksikan oleh seluruh hewan yang ada didunia, dan diiringi kesenian yang belum ada dimuka bumi. Ketika Singoludro menyampaikan ke Joko Ludro bahwa sepertinya Dewi SonggoLlangit ini seakan menolak lamaran Joko Ludro dengan cara yang sangat halus. Namun Singo Ludro menyanggupinya dengan mengatakan bahwa mendatangkan seluruh hewan didunia dan mengiringi kesenian yang blom ada di dunia itu urusan saya.
Akhrnya persyaratan disiapkan dan dilaksanakan oleh singoludro. Akhir cerita, atas Hidayah Allah SWT Singo Ludro sampai jadi santri di Giri. Semua apa yang dimiliki dan kemampuanya semuanya digunakan untuk kemaslahaan islam dan muslimin hingga akhir hayatnya.
Beliau dimakamkan di dusun Keteg desa Giri Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik.
Disampaikan KH. Aunur Rohim Masyhud pada acara Khoul Mbah Singo Ludro.

Add Comment